cerita sang pendendam

Mengapa diriku begitu membenci rokok? aku hidup dilingkungan perokok, bahkan sempat pula mencicipi rokok selama beberapa bulan lamanya untuk kemudian memutuskan untuk berhenti dan menjauhinya. jawabannya adalah pengalaman pribadi, ketika suatu saat aku terkena batuk selama berbulan bulan dan itu disebabkan tidak sehatnya lingkungan hidupku, yah itulah resiko perokok pasif, enaknya ga kerasa, enegnya kena terus , lalu tentu juga adalah pilihan yang dilandasi oleh pengetahuan dan logika yang menurutku adalah benar.

Aku coba untuk bersikap objektif, bahwa bukanlah perokok yang aku benci tetapi rokoknya itulah yang tidak aku sukai, walau tentunya saja bersikap objektif dan konsisten adalah sesuatu yang sulitnya bukan main. Ah setidaknya hormatku masih setinggi langit pada Ayahku yang perokok, hehe tentu saja satu satunya perokok yang aku hormati hanya beliau ini.



Lalu sebenarnya apa sih pandanganku mengenai rokok, bila dilihat dari segi kesehatan, banyak yang bilang rokok itu merugikan kesehatan, walau tentu perusahaan rokok menyanggahnya dengan mengeluarkan pendapat berdasarkan ahli kesehatan di pihaknya. Segi agama, banyak ulama telah mengharamkan rokok ini, namun juga banyak ulama yang menjadikannya makruh, tentu saja ulama ulama yang memakruhkannya adalah ulama perokok hehhe.

Menurutku, apabila seorang perokok sakit karena akibat perbuatannya (merokok), itu adalah suatu hal yang wajar dan lumrah, seperti ketika seseorang menusukkan pisau ke tangannya lalu dari tangan tersebut keluar darah, itu adalah konsekuensi logis dari suatu peristiwa sebab akibat. Untuk hal ini dengan tegas aku berkata, I don’t care if smoker dying due to their habit, well itu resiko sendiri, kau yang menanam dan kau pula yang menuai.

Bukankah setiap orang punya kebiasaan buruk yang mendatangkan keburukan di suatu saat pada kehidupannya, seperti orang yang jarang minum air putih, lalu mendapat masalah dengan ginjalnya, atau orang yang sering begadang untuk kemudian mendapatkan kenyataan bahwa dia memiliki masalah dengan jantungnya. Selama suatu akibat itu ditanggung sendiri oleh sang pelaku maka aku berpendapat bahwa itu adalah hal wajar. Akan tetapi beda jadinya apabila ketika seseorang mendapatkan kenyataan diri bahwa di dalam tubuhnya terdapat kanker yang menyerang paru paru sebagai akibat dari asap rokok yang ditimbulkan oleh perokok yang ada disekitarnya, aku membandingkannya seperti seseorang yang memegang pisau lalu menusukkan pisau tersebut ke tangan orang lain hingga berdarah, tidak ada salahnya menusukkan pisau ke sebuah batang pohon (secara umum kita beranggapan pohon tidak memiliki syaraf sakit), tetapi tentu adalah suatu kesalah besar apabila menusukkan pisau tersebut ke tangan teman kita.

Logika yang sama aku terapkan pada perokok yang mengasapi orang di sekitarnya, tentu lalu ada sanggahan, salah sendiri mengapa orang orang diam di sekitar perokok. Banyak pihak yang tidak berdaya menghindari asap rokok, contoh kecil adalah anak anak kecil yang hidup dengan orang tua yang mengidap kecanduan rokok, anak anak tidak mengerti akan bahaya yang terkandung dalam asap rokok. Dan satu hal yang sering tidak disadari oleh perokok adalah bahwa “Mereka tidak mampu untuk mngendalikan angin”, bagaimana mereka tidak tahu bahwa asap rokok mereka terbawa kemana mana sehingga tercium oleh orang orang yang tidak menghendakinya, terhisap sampai masuk ke dalam paru paru mereka. Lucu/miris melihat perokok yang menggendong anak kecil di satu tangan, dan mencoba menjauhkan rokok dengan tangan tangan satunya, seakan hal tersebut bisa menyelamatkan anak itu dari asap rokok, a beautiful lie, such a perfect denial (Panda’s quote).

Anggaplah asap rokok tidak berbahaya untuk kesehatan, tetapi dengan menyebarnya asap rokok dan asap tersebut terhisap oleh orang yang tidak menghendakinya, itu sama saja dengan melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan (jadi ingat, ada yang dituntut ke meja sidang hanya karena ia kentut, dituntut dengan pasal perbuatan yang tidak menyenangkan). Siapa yang melarang meludah? Meludah adalah hak semua orang, akan tetapi menjadi bermasalah apabila kita meludah ke muka orang lain, atau walaupun kita meludah ke tempat lain, lalu ternyata ada percikan dari ludah kita yang mengenai orang lain, maka orang tersebut akan marah (jadi ingat cerita mengenai orang yang masuk neraka hanya karena ia meludah di jalan), bukankah ini mirip dengan rokok dan asapnya.

Aku takut, takut mengenai suatu keadaan di akhirat nanti, sesuatu yang berkaitan dengan hal yang kita bicarakan ini, tidak ada hadis yang menyatakan secara gamblang tentang rokok, setidaknya itu yang aku tahu. Hanya saja, ada satu cerita yang kuingat (semoga garis besarnya benar), yaitu ketika di suatu waktu rasul bertanya pada para sahabat mengenai “Siapakah orang yang bangkrut itu?” lalu sahabat banyak yang menjawab dengan definsi bangkrut di dunia. Rasul menjelaskan bahwa orang yang bangkrut adalah orang yang ketika di dunianya memiliki hutang/kesalahan pada seseorang dan belum sempat untuk meminta maaf, lalu di akhiratnya orang tersebut terpaksa harus membayar semua kesalahannya dengan cara memberikan semua amal baiknya untuk diberikan kepada seseorang tersebut, dan apabila kesalahannya tersebut belum tertutupi oleh seluruh amal baiknya, maka harus ditambah dengan menjadikan semua kesalahan seseorang tersebut menjadi tanggung jawabnya, hingga pada akhirnya dia tidak lagi memiliki catatan amal baik, yang ada hanya catatan amal buruknya di tambah catatan amal buruk seseorang yang ia sakiti.

Betapa kita semua sangat memerlukan semua amal baik kita, dan bisa jadi untuk itu kita akan saling tuntut di akhirat nanti. Manusia adalah pendendam, aku adalah pendendam, aku tidak dapat membayangkan diriku menuntut ayahku sendiri di sana, walau mungkin saja itu terjadi, saat semua batasan dilepaskan, dan yang tersisa adalah antara aku, nereka dan surga lalu yang lainpun menjadi tidak berarti. Aku akan selalu berusaha mengingatkan diri ini bahwa bukan perokok yang aku benci tetapi rokoknya yang tidak kusukai, untuk itu, sumbang saran dariku untuk teman temanku perokok, jadilah perokok yang aman, jaga asap rokokmu jangan sampai menjadi investasi buruk yang suatu saat nanti datang menghantuimu.

Mari kita menjadikian diri ini lebih lagi.

Related Post



2 Responses
  1. Armila Dewi Says:

    Setuju gem...mestinya ada aturan tegas soal aturan dimana boleh merokok..eh aturannya di jkt udah ada tp pelaksanaannya???msh berlaku ngga siyy tuh aturan??ngapain cape2 bikin aturan klo akhirnya ilang begitu aja..mending tidur aja hehe..


  2. Anonim Says:

    suruh aja tutup pabrik rokoknya...


Thank you for your comment, i really appreciate it

Gema Pramugia