Kuisioner Untuk Jakarta Yang Lebih Baik

Warga Jakarta,

Silakan klik link ini: https://spreadsheet s.google. com/viewform? hl=en&formkey= dEJWenV5STRBOFdI a0t5Vmt1ZjVLaXc6 MA dan meluangkan waktu 5 menit untuk mengisi survey yang hasilnya akan dijadikan dasar sebagai proses partisipasi dalam penyusunan RencanaTata Ruang Wilayah Jakarta.

Kami juga punya mimpi: Jakarta 2030 Tahukah Anda, saat ini nasib kota Jakarta 20 tahun ke depan sedang dipertaruhkan? Kota bukanlah hanya sebagai tempat kita tinggal atau mencari nafkah, tapi juga tempat membesarkan anak-cucu, menuntut ilmu, menjalin pertemanan, berekreasi, dan beragam aktivitas lainnya.

Rancangan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2030, sebuah perencanaan yang menentukan wajah kota Jakarta dalam 20 tahun mendatang, saat ini sudah di tangan DPRD dan bisa disahkan sewaktu-waktu. Tapi sayangnya, rencana yang akan menentukan nasib warga tersebut justru disusun nyaris tanpa melibatkan warga. Padahal sebagai warga kota, Anda tentu punya mimpi tentang masa depan kota Jakarta.

Kota yang layak huni tidak hanya bagi orang dewasa yang aktif, tapi juga anak-anak, remaja, lansia, ibu-ibu, dan difabel. Survei ini bertujuan untuk menggali aspirasi warga Jakarta dan komuter tentang masa depan kota Jakarta dalam 20 tahun mendatang. Survei ini dilakukan oleh dan dari warga, untuk masa depan kota Jakarta yang lebih baik. Sampaikan aspirasi Anda sekarang. Perlu 1 juta suara terkumpul dalam waktu sesingkat-singkatny a untuk membuat perubahan berarti. Kini nasib kota ada di tangan Anda! Ajaklah sebanyak-banyaknya anggota keluarga, tetangga, kerabat, teman, anak didik, dan kenalan Anda untuk mengisi survei ini.

Tertarik menjadi relawan surveyor? Hubungi Koalisi Warga untuk Jakarta 2030 melalui email jakarta2030@ gmail.com

Catatan:
Warga Jakarta = semua orang yang tinggal di Jakarta baik pemegang KTP Jakarta maupun tidak
Komuter = warga Bodetabek yang sehari-hari bekerja/bersekolah ke Jakarta

Yayasan Sayap Ibu

Tulisan ini di dapat dari kiriman milist dan seperti biasa, sumbernya hilang tercecer entah dimana, namun isinya tetap mampu menyentuh hati setiap yang membaca, selamat merenung.

Terik hari, kaki melangkah tak tentu. Ingin kembali ke kantor? Hm….enggan sekali kaki kembali ke sana! Ah….toh deadline masih dua hari lagi! Lebih baik, pergi mengunjungi sahabat! Eh….ternyata dia sedang tidak ada di kantornya. Sahabat saya itu sedang berkunjung ke Yayasan Sayap Ibu. Tugas kantornya. Saya telepon-lah dia! Saya susul ke sana!

Yayasan Sayap Ibu? Seumur-umur, biarpun saya dibesarkan dalam lingkungan pergaulan sekolah yang sangat dekat dengan kawasan Barito ini, baru sekali itu saya masuk ke dalamnya dan melihat lebih dekat! Biasanya, saya hanya melihat dari luar jika melewati jalan Barito itu. Atau, ketika ber-window-shopping ke Heritage Factory Outlet. Atau, ketika habis berkunjung ke rumah kawan-kawan di kawasan Benda dan Petogogan serta arah Gandaria.

Aliens versus Predator


Setiap hari darah tertumpah di bumi ini, dan tak ada yang anah dengan hari ini, di suatu titik di suatu saat pada hari ini, merahnya darah tentu telah sedang dan akan tertumpah membasahi bumi.

Sedikit perbedaan yang ada hanyalah bahwa pada hari ini merahnya darah terlihat jelas oleh kedua mataku, darah yang tercecer dijalanan, ditutupi oleh selembar koran usang yang juga menjadi basah oleh sang darah.

Darah ini ada di bawah kakiku, terlewati begitu saja seakan ia hanya seonggok darah hewan kurban, tidak sekali kali tidak, ini adalah darah manusia, ada respek yang terlahir dari dalam hati ketika melihatnya, bukan takut, bukan jijik, bukan ngeri, hanya respek bahwa darah ini tadinya merupakan bagian tubuh seseorang, bagian tubuh yang terpaksa terpisah dari sang empu.

Aku tidak tahu darah siapa ini, atau bagaimana dia sampai tergenang membasahi bumi, hanya terdengar sayup sayup ucapan sang pendongeng mengisahkan tentang al maut yang tadi mampir di jalan ini.

Cerita klasik jalanan ibu kota, kala pagi mendera, semua sibuk dengan tujuan hidupnya sendiri. Saling sikut saling tonjok itu biasa yang penting tujuan tercapai. Jutaan motor melintas di jalanan, bersaing dengan ratusan ribu mobil pribadi. Tak lupa kopaja saling salip kiri ke kanan, kanan ke kiri, mengatasnamakan mencari sesuap nasi untuk anak istri atau sekedar memuaskan nafsu bibir sendiri.

Seberapa sering kita mengalami kecelakaan mungkin sangat kecil, 1 % dari seribu kali perjalanan kita menuju kantor, atau 0.01 % dari sepuluh ribu kali kita menyalip kendaraan di depan kita. Lalu kitapun sombong dan menganggap kita adalah sang hebat, penguasa jalanan, master of our own vehicyle. Lalu yang 1 % itu pun terjadi, lalu al maut pun datang, lalu lalu……..semua menjadi tak berarti lagi………..

Pagi ini pun tak jauh berbeda, saat hukum rimba diberlakukan, lalu lintaspun tak ubahnya medan perang, namun naas, ada dua pihak yang harus mengalami kesialan (bila ini bisa digolongkan dalam kasus yang bernama “kesialan”), pengemudi motor tertabrak kopaja, aku tidak tahu siapa yang salah, dan bukankah siapa yang benar dan siapa yang salah sudah tidak berlaku lagi pada saat itu, korban berjatuhan walaupun bisa jadi dia yang benar, lalu apa? Darah telah tertumpah.

Teringat pesan dari Ayah, “Ketika kita di jalanan, tidak penting apakah kita benar atau kita salah, yang penting adalah selamat”. God bless you my dear father. Wejangan yang sering kali terlupakan, tertutup oleh ego dan harga diri.



Merenungi tingkah laku motor dan kopaja di dunia perlalu-lintasan, tak ubahnya melihat film aliens vs predator, who ever win, it won’t bring any good to the humanity.

Jadwal Shalat jakarta Bulan Februari 2010


sumber: pkpu

remake of Karate Kid


Remember “The Karate Kid”? Get ready for a remake with 11-year-old Jaden Smith (Will Smith’s son).

Judging by the skills Jaden Smith showed off during a photo shoot on the Great Wall of China, he'll more than rise to the challenge.

Jaden, who got his big break playing Will's son in The Pursuit of Happiness, spent four months in training for his first starring role.

The original 1984 movie, which co-starred Elisabeth Shue, told the story of a martial arts underdog named Daniel (Macchio) who moves to Los Angeles from New Jersey and learns discipline and fighting skills from handyman/mentor Mr. Miyagi (Morita).
Jackie Chan plays his mentor Mr Han – a part based on Pat Morita's iconic Mr Miyagi in the 1984 movie.

And as not to anger too many dojo loyalists, the new film will follow the formula of bullied youth meets eccentric mentor. Lending some Method to the remake madness, Jaden has already been schooled in martial arts.


The coming “Karate Kid,” is set in Beijing. So it should be “The Kungfu Kid” then, but don’t bother about that, two things that make this movie into my list are, Jackie Chan and Kungfu/Karate what so ever, and of course will smith, as far as I know, Will Smith equal to good movie.

The movie itself will be ready in this summer, by that time, Kevin will be 2.5 years old, he will be ready for this kind of movie.