IBUKU

Aku pernah mempunyai Ibu yang hebat. Beliau sangat menyayangiku dengan sepenuh

hatinya. Beliau berkorban dan membantu aku dalam segala hal. Ibuku membesarkanku

dengan curahan kasih sayang, serta sangat saksama seperti menating minyak penuh.

Ibulah yang dengan susah payah mengusahakan pendidikanku hingga aku berumah tangga.

Hari ini, perempuan yang luar biasa itu telah kami semayamkan untuk selama-lamanya.

Dan bayangkan perasaanku, ketika beberapa hari kemudian aku pergi ke rumah Ibu, dan

menemukan secarik kertas terlipat sunyi di laci mejanya yang siap akan dikirimkan.

Inilah bunyinya :

" Inilah waktunya.

Jika kau mencintai ibu, cintailah sekarang supaya ibu tahu.

Merasakan keindahan, kelembutan kasih yang tumpah dari sanubarimu.

Cintailah, manjakanlah ibu sekarang semasa ibu masih hidup.

Usah tunggu hingga ibu pergi.

Kemudian barulah engkau ukir rasa kasihmu di batu nisan.

Dengan kata-kata indah pada sekujur batu yang diam.

Jika kau memiliki ingatan manis buat diri ibu, tunjukkanlah sekarang.

Jangan tunggu sampai ibu mati, karena ibu pasti tak dapat mendengarnya.

Oleh karenanya jika kau mencintai ibu, walaupun hanya setitik saja dari lautan hidupmu,

nyatakan dan buktikan sekarang, sementara ibu masih hidup.

Agar ibu dapat menikmati dan menyanjungnya "

Sekarang Ibu telah pergi dan aku menyesal sebab aku tak pernah sedikitpun menyatakan

betapa besar arti Ibu selama ini. Aku berbicara, melayani semua orang untuk urusanku.

Tapi aku tak pernah meluangkan waktu untuk melayani Ibu walaupun hanya sejenak.

Sebenarnya aku mampu menuangkan teh kedalam cangkirnya, mengajak Ibu berjalan-jalan

atau sekedar memeluknya erat ketika sarapan.

Jika aku menelpon Ibu kulakukan dengan cepat dan singkat. Sebaliknya aku lebih mengutamakan

teman-teman di jejaring sosial, menghadiri pertemuan sosial tanpa pernah melibatkan ibuku.

Aku terus mengingat betapa banyak waktu yang ia berikan kepadaku. Bahkan beliau

dengan senang hati membantu mengurus anak-anakku jika aku sibuk bekerja.

Mereka sangat menyayangi neneknya; karena sejak kecil neneknyalah yang lebih dekat.

Aku dilanda penyesalan yang tiada ujung.

Dengan peristiwa ini, aku berharap anak-anak lain akan dapat memahami, menghargai para Ibu mereka.

Ibu yang telah memberikan kasih sayang yang melimpah tanpa syarat sepanjang hidupnya.

[Sumber : Anonim]

Bukankah itu sangat menyebalkan, ketika semua ada ditangan, kita tak pernah menghargainya, namun saat semuanya hilang, kitapun meradang, menangis meraung raung, meratap if only i could turn back time.......

namun semua itu sia sia belaka, ketika aku menangisinya, akupun bertanya untuk siapa tangisan ini, untuk ibuku atau untuk diriku sendiri

benar benar cintakah aku pada ibuku? atau sebegitu besarkah cintaku pada diriku sendiri? sehingga aku tak rela ditinggal pergi oleh seseorang yang dianggap sebagai "milikku"

Related Post



4 Responses

  1. -Vie- Says:

    jadi inget soal lubang di hati. kadang kita (? gw kalii) berpura2 lubang itu tak ada..


  2. harly Says:

    ibu dalah orang yang sangat ku kagumi..
    walaupun dngan segenap keterbatasn yang dimilikinya ia tetap berupaya tuk memberikan yang terbaik bagi kami anaknya..
    kunjungi jg bahan bacaan saya :
    jurnal
    ekonomi andalas



Thank you for your comment, i really appreciate it

Gema Pramugia