IBUKU

Aku pernah mempunyai Ibu yang hebat. Beliau sangat menyayangiku dengan sepenuh

hatinya. Beliau berkorban dan membantu aku dalam segala hal. Ibuku membesarkanku

dengan curahan kasih sayang, serta sangat saksama seperti menating minyak penuh.

Ibulah yang dengan susah payah mengusahakan pendidikanku hingga aku berumah tangga.

Hari ini, perempuan yang luar biasa itu telah kami semayamkan untuk selama-lamanya.

Dan bayangkan perasaanku, ketika beberapa hari kemudian aku pergi ke rumah Ibu, dan

menemukan secarik kertas terlipat sunyi di laci mejanya yang siap akan dikirimkan.

Inilah bunyinya :

ODOL DARI SURGA

Cerita menggelikan ini kudengar ketika duduk dibangku SMA dulu. Cerita yang akhirnya tertulis begitu dalam di relung-relung hati. Cerita yang meskipun naif, namun bermakna sangat dalam.

Kisah nyata dari seseorang yang dalam episode hidupnya sempat ia lewati dalam penjara. Bermula dari hal yang sepele. Lelaki itu kehabisan odol dipenjara. Malam itu adalah malam terakhir bagi odol diatas sikat giginya. Tidak ada sedikitpun odol yang tersisa untuk esok hari. Dan ini jelas-jelas sangat menyebalkan.

Istri yang telat berkunjung, anak-anak yang melupakannya dan diabaikan oleh para sahabat, muncul menjadi kambing hitam yang sangat menjengkelkan. Sekonyong-konyong lelaki itu merasa sendirian, bahkan lebih dari itu : tidak berharga ! Tertutup bayangan hitam yang kian membesar dan menelan dirinya itu, tiba-tiba saja pikiran nakal dan iseng muncul. Bagaimana jika ia meminta odol pada TUHAN ?

Berdoa untuk sebuah kesembuhan sudah berkali-kali kita dengar mendapatkan jawaban dari-NYA . Meminta dibukakan jalan keluar dari setumpuk permasalahanpun bukan suatu yang asing bagi kita. Begitu pula dengan doa-doa kepada orang tua yang telah berpulang, terdengar sangat gagah untuk diucapkan.

Cika dan Cicika

Wow, ternyata ada kenalanku yang sudah berhasil menerbitkan buku, ruar biasa.

Judulnya adalah Cika dan Cicika, berikut ini adalah sinopsis ceritanya:

Cika adalah seorang anak pemberani. Suatu hari ketika dia sedang berlibur di rumah neneknya di dekat sebuah danau, dia diganggu segerombolan serangga.

Awalnya Cika mengira segerombolan serangga itu adalah lebah. Setelah dijelaskan oleh neneknya, ternyata segerombolan serangga itu adalah kunang-kunang, atau dalam bahasa sunda disebut Cicika.

Karena merasa kesal dikejar-kejar cicika, dia mendekati pohon yang merupakan sarang cicika itu. Dia lempari cicika itu dengan batu agar cicika itu lari. Tetapi tiba-tiba batu yang dilemparnya kembali padanya dan mengenai kepalanya hingga dia pingsan.

Ketika bangun Cika kaget, karena dia sudah berwujud sebagai cicika….

 

Tertarik membelinya? silahkan cek link ini http://www.bookoopedia.com/daftar-buku/pid-33872/cika-dan-cicika-soft-cover.html

Keluar dari pekerjaannya untuk mengejar impiannya sebagai writer, hanya dua kata dariku: ruarrr biasa.

Sebatang Wortel, Sebutir Telur atau Biji Kopi

Berikut ini adalah tulisan yang tertempel didinding musholla kantor, entah siapa yang menempelkannya disana. Selamat membaca.

Sebatang Wortel, Sebutir Telur atau Biji Kopi

Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul. Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak perempuannya ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel. Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk.Ia membiarkan masing-masing mendidih.

Selama itu ia terdiam seribu basa. Sang anak menggereget gigi, tak sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring. Kemudian ia mengambil telur dan meletakkanya pada piring yang sama. Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga.

Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, "Apa yang kau lihat, nak?" "Wortel, telur, dan kopi, " jawab sang anak. Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Sang anak tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu. "Apa maksud semua ini, ayah?" tanya sang anak.

Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah.

Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuk berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu. "Maka, yang manakah dirimu?" tanya sang ayah pada anaknya. "Di saat kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu?

Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi?"

Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yg terkandung di dalam Al-qur'an; namun betapa mudahnya utk mengulang2 gosip yang sama kepada orang lain

Betapa besarnya nilai uang kertas Rp.100.000 apabila di bawa ke mesjid utk di-infaq-kan; tetapi betapa kecil Rp. 100.000 kalau di bawa ke Mall utk di belanjakan !

Betapa sulitnya untuk mencari kata2 ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengumpat/caci- maki  tanpa harus berpikir panjang2.

Betapa asyiknya apabila pertunjukan music di perpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di mesjid lebih lama sedikit daripada biasanya.

Betapa semangatnya  untuk duduk di depan dlm pertandingan atau konser namun lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di mesjid

Betapa mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang di katakan oleh koran namun betapa sering kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci AlQuran

Bersyukurlah kepada ALLAH SWT, yang Maha Baik, Pengasih & Penyayang

Ingatlah……..

di alam kubur nan gelap kita hanya sendiri, hanya ditemani amal ibadah kita yang menyinari, tidak ada pesta, tidak ada harta, tidak ada makanan/minuman, yang ada hanya pertanyaan :

* Siapa Tuhanmu ? Allah SWT

* Siapa Nabimu ? Rasulullah Muhammad SAW

* Apa Kitab Sucimu ? Al-Quran

Semoga kita dapat menjawabnya, amin.....